16 OKTOBER 2019

Aku seringkali berpikir apa yang menyenangkan ketika menjadi sosok yang ditakuti oleh orang lain? Pertanyaan itu seringkali aku tanyakan kepada teman-temanku tatkala mereka berencana akan berbuat anarkis.

Sejak kecil aku tinggal di sebuah lingkungan desa yang terkenal rawan kriminal. Desa yang terkenal dengan tawuran, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dll itu seringkali menjadi headline di surat kabar di kota kecil tempat kami mendiami ini. Tanpa terorganisasi proses regenerasi pembuat onar di kampung kami berlangsung lancar. Seorang anak kecil akan meniru perilaku orang yang lebih dituakan. Seorang anak kecil akan serius berkelahi dengan kawan lainnya hanya untuk bangga berkata “akulah penguasa daerah ini”. Alangkah mirisnya di saat mereka seharusnya tertawa menikmati hidup, mereka sudah seserius itu sejak dini. Sedangkan aku? Aku hanya pengisi anggota kelompok. Mereka sangat berani kepadaku, tetapi mereka tidak berani menyakitiku. Aku anak seorang pengajar mengaji al-Qur’an di tempat mereka belajar mengaji. Mereka segan kepadaku karena orang tuaku.

Seiring bertambahnya tahun, umur kami pun bertambah. Tingkat kenakalan anggota kelompok kami meningkat. Yang dahulu hanya berani mencuri durian di kebun orang lain, saat ini sudah berani mencuri kendaraan bermotor, perhiasan,dll. Yang dahulu hanya berani berkelahi dengan kawan sebaya saat ini sudah berani membunuh, menikam, memerkosa, dll. Yang dahulu hanya berani diam-diam merokok saat ini sudah berani menjadi bandar narkoba. Sedangkan aku? Aku hanya orang yang ada di kelompok mereka ketika akhir Ramadhan saja. Aku sudah tidak tinggal bersama orang tua sejak lepas SMP.

Aku ingat ketika kecil pernah berkelahi dengan seorang yang kami takuti kala itu. Aku dipukul olehnya lalu hanya kubalas dengan tangkisan dan hindaran. Aku tidak berani memukul. Hingga akhirnya satu pukulan mengenai wajahku. Aku hanya melototkan mata tanda tidak senang dengannya lalu dia lari terbirit-birit. Aku tidak menangis meski setelahnya menangis sejadi-jadinya. Aku dimarahi orang tua karena berkelahi meski dialah yang memulainya. Setelah kejadian itu seluruh anggota kelompok kami sangat menghormatiku. Mereka tidak berani padaku hingga tidak berani menyuruhku untuk membelikan rokok di warung hingga beberapa tahun setelahnya. Aku merasa takjub dengan kejadian itu.

Mereka hanya tertawa, tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan lain tatkala pertanyaan itu terlontar. Aku tahu dan merasa yakin mereka orang baik. Mereka masih memiliki iman dan hati nurani yang baik seperti halnya mereka masih mau belajar mengaji di TPQ orang tuaku ketika mereka masih kecil. Iya aku yakin mereka pandai serius beradu peran ketika dewasa sama halnya mereka pandai untuk serius beradu peran tatkala kecil dulu.

Aku tidak memerlukan jawaban pertanyaan tersebut karena aku sudah memiliki jawabannya. Aku lebih menganggapnya sebagai sebuah pernyataan atas sebuah sikap tidak senangnya aku dengan sikap mereka. Aku menyayangi mereka seperti halnya sayangku kepada saudaraku. Aku hanya tidak suka dengan sikapnya saja.

SERIBU KATA UNTUK AFI (Bag. 2)

Entah mengapa di suatu akhir pekan sang anak yang terkenal riang gembira lebih memilih untuk memilih mengutuk diri dalam kesedihan. Susah terbayang hari demi hari mulai ditinggal rekan. Ketika malam dikepung sepi, hari pun mulai mengikutinya. Memang sebagai lelaki tak pantas terlalu dalam mengikuti pepatah: Satu tangan yang meraihmu ketika kamu terjatuh, akan lebih berharga dari seribu tangan yang menyalamimu ketika kamu berhasil. Ilusi kebahagiaan mulai dibuat. Senyum ramah mulai dipaksa dan ternyata itu menambah duka yang semakin dalam.

Kepada seorang Ibu yang terkenal dengan sosok bijaksananya di kota ini aku mulai bercerita, menjawab sebuah pertanyaannya. “Ibu, saya tidak mau menjadi seorang juara di setiap kompetisi yang Bapak ciptakan” Jawabku. “Apakah ada hal yang lebih indah dibanding berkompetisi?” timpalku. Beliau pun menjawab “Ada, yang pertama mas harus lakukan adalah mas harus siap untuk menikmatinya. Menikmati setiap proses yang akan dilalui dan menikmati hasil akhir yang akan diraih. Apakah mas sudah siap?”

Napas mulai kuhirup dalam-dalam. Nada suara mulai aku atur berat sebagai penanda aku ingin berkata dengan sangat serius. “Ibu, saya tidak memiliki keinginan lebih dalam sebuah perjalanan kehidupan dunia. Sejak kecil saya sudah merasa sedikit ambisi untuk meraih nomor satu dalam setiap perlombaan. Dulu saya tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Saya hanya ingin menjadi seorang santri di sebuah pondok di Jawa Timur. Bangun pagi membaca kitab, setelah shubuh bekerja di sawah, setelah dluhur membersihkan surau, setelah ashar mulai menghafal lagi nadhom-nadhom, setelah maghrib membaca al-Qur’an dan setelah isya’ menyetor hafalan nadhom-nadhom itu ke ustadz.” yakinku kepadanya.

Sejak kecil aku sering merasa sepi. Aku merasa ada jarak antara aku dengan kawan-kawanku lainnya. Kala itu ketika aku menjadi siswa peringkat nomor satu di kelas, aku merasa mereka segan bercengkrama denganku. Iya, guru-guru di kelasku terlampau mengidolakanku sehingga terlampau protektif ketika aku bermain dengan rekan-rekan lainnya. Aku dilarang capai tatkala jam istirahat karena persiapan beberapa lomba yang harus aku ikuti. Aku bersyukur selalu kalah di setiap perlobaan itu. Aku tidak ingin ada jarak dengan orang lain. Aku ingin duduk di bawah dengan mereka, kawan-kawan yang kucintai saat itu.

Rayuan kata mulai berdegung nyaring tatkala raga tak ingin menari. Syair indah mulai memberanikan diri bercengkrama denganku. Kuberanikan langkah kaki berlari menerjang, nyali menunduk takut, hati berdetak kencang, suara lirih berkata: tolong kuatkan jiwa ini karena ada doa orang lain yang tak mungkin kusiakan. Aku beranikan menyatakan secara jujur ke Beliau, “Ibu, apa yang saya capai hingga saat ini, apa yang saya jalani sekarang, apa yang akan saya kerjakan nantinya adalah doa dari orang tua di Semarang. Saya bukan siapa-siapa tanpa mereka. Saya akan melakukan segala hal yang menurut mereka baik. Saya sudah bersiap dengan pilihan meninggalkan orang yang saya kasihi saat ini untuk mereka.”

Iya, aku akan meninggalkanmu, Afi .

SERIBU KATA UNTUK AFI (Bag. 1)

Aku tidak tahu sebaiknya harus memulai dari mana pembicaraan ini, kecuali memulainya dengan kalimat Bismillahirrohmanirrohim. Hanya Dialah yang saat ini setia menjadi tempatku berkeluh kesah akhir-akhir ini. Tanpa Rohman-Nya mungkin tulisan ini tidak akan pernah ditulis dan tidak akan pernah berani aku berikan ke kamu. Dengan sifat Rohim-Nya lah tiada hal menjadi penyemangatku untuk berlomba mencari ridlonya. Semoga kelak menjadi penyelamat kita semua di akhirat sebagai wasilah ikhtiar mengenal satu sama lain dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya cara.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga terlihat berwarna-warni dimana-mana. Bau harum menyerbak ke seluruh penjuru kota ini. Muda-mudi tampak betah duduk berlama-lama di Taman saling memadu kasih. Seorang anak kecil tertawa bahagia bercengkrama dengan kawan sebayanya. Sepasang kakek nenek tersenyum bagaimana mengenang masa-masa itu. Sedangkan aku hanya berani mengintip mereka dari kejauhan, merenung bagaimana waktu dapat mengatur perasaan manusia dari waktu ke waktunya.

Ada saat dimana waktu itu terasa menyenangkan, tetapi akan datang saat dimana kita akan jalan sendiri. Aku terkadang mengutuk waktu. Dia pinjamkan kita detik, menit, jam, hingga hari. Lalu dia pun ambil kapanpun dia mau. Akan tetapi dengan adanya dia akhirnya aku belajar bagaimana mencintainya dan menghormatinya. Ada seseorang yang tidak boleh disia-siakan waktunya hanya untuk menunggu ketidakpastian.

Di antara anugerah ilahiyah bagi hamba-Nya adalah ujian bagi memetik kepahaman. Bahwa setiap orang itu diuji yang spesifik bagi keluarganya yang tak ditemukan dalam keluarga lain. Bagi yang berhasil memetiknya, itu kehebatan Allah yang hanya orang ariflah yang mampu memetiknya. Aku akan tetap belajar meyakini setiap waktu bahwa Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dalam heningnya malam di taman itu aku memikirkan seandainya aku adalah bunga-bunga itu. Apakah hatiku senang karena dapat membuat setiap orang bahagia melihat diriku ataukah aku akan sedih karena aku mengetahui selalu ada batas waktu untukku membuat orang-orang itu bahagia.

23 OKTOBER 2019

Hari ini termasuk hari yang begitu spesial untukku. Ingatan kembali atas sebuah sosok yang dulu pernah kuperjuangkan tiba-tiba terngiang di kepalaku. Aku sudah melupakannya sejak lama. Sejak dinginnya sikap atas sebuah dobrakan yang sedang kulakukan saat itu terhadapnya. Memang kala itu aku terlampau vulgar saat menyapa dirinya, tetapi hal itu harus kulakukan untuknya. Iya, aku melakukannya dengan sadar saat Dia sudah memiliki “orang baik” di sisinya.

Dalam rutinitas sebelum fajar tiba-tiba jari-jemariku menuliskan sebuah nama di penelusuran salah satu aplikasi di gawai yang kupegang. Hingga tiba di sebuah nama yang kuyakini dialah “orang baik” menurutnya saat ini. Oh beruntungnya dia mendapatkan orang baik tersebut. Andaikan waktu dapat diputar kembali dari kisah romantisme yang telah dia lalui, seharusnya dia tidak pernah membatasi lingkup pertemanan atau seharusnya dia memperluas jejaring pertemanan. Iya, dia punya keahlian berkawan dengan banyak orang.

Ada usaha yang telah orang baik itu lakukan untuk membuat satu frekuensi dengan keluarganya. Tetapi entahlah mengapa banyak tanya tentang mengapa dia begitu tidak percaya diri untuk mengenalkan ke orang tuanya atau ada hal yang belum layak aku ketahui saat ini?

Suatu obrolan dengan kawan dari Madura semalam sebelumnya, sangat wajar dan mengerikan tatkala mengetahui orang kita cintai saat ini memiliki masa lalu dengan orang-orang baik di sisinya. Sangat wajar dalam arti kami saat ini pun melakukannya dengan mencari bunga mawar mana yang indah warnanya, harum aromanya, tidak berduri, dan tidak berpemilik. Akan tetapi kami beropini bahwa hal itu mengerikan dalam arti jikalau kelak ada masalah di antara kita, emosi memuncak, lalu terucaplah kalimat pembanding antara kami dengan orang baiknya tempo lampau, bagaimana sedihnya diri ini. Atau karena dia telah tahu trik untuk mendapatkan orang-orang baik itu, tatkala kita jenuh mungkin kita akan menciptakan orang-orang baik lainnya. Entahlah hal itu sangat mungkin terjadi sebagai pengingat diri ataupun harus selalu belajar mencari alasan baru tiap harinya ketika telah memutuskan untuk benar-benar mencintainya. Hingga kelak kita tak perlu membutuhkan lagi orang baik lainnya selain dirinya.

Kita saat ini berjalan dalam jalur berbeda. Meski dalam satu nasib yang sama, yakni bingung bagaimana cara meyakinkan orang tua atas pilihan yang kita buat.

Tetapi satu hal yang membuat aku tersenyum karenanya di pagi ini, aku membuka lagi blog ayahku. Aku suka sekali dengan tulisannya yang bercerita tentang ayahnya. Aku sudah lupa bahwa kado dan oleh-oleh terbaik untuk ayahku adalah tulisan. Aku selalu membuatkan buku untuknya tiap tahun tatkala aku kuliah dulu. Hal yang sudah aku lupakan di 3 (tiga) tahun terakhir. Aku rindu Ayah. Aku ingin pulang.

Penghianatan dibalik Jilbab 1

Saya yakin setiap manusia memiliki kisah kehidupan yang berbeda-beda, seperti kisah saya ini yang selalu berwarna kadang sedih kadang pun senang. mungkin saya hanya bisa mencurahkan dalam tulisan ini.

Pada tahun 2013 silam aku dipertemukan dengan wanita bernama Aisyah Dia Maulidia atau panggilanya ” icha dhiyamaulida” dia berjibab waktu itu tak disangka bisa bertemu dengan dia yaitu tetangga desa sendiri.

Awal pertemuan kita di funyok batah barat bangkalan disitulah awal dari segala cerita asmara. Awal pertama kali aku mengungkapkan ingin menikahi dia tanpa pacaran tapi waktu itu masih terlalu dini dan dia pun tidak mau cepat” nikah. Saya pun saat itu masih kuliah semester 7. Awalnya dia sulit menerima aku jadi, meski sulit tetap aq mengejarkan maksud hati dan sering mengajak keluar dan lambat laun usahaku membuahkan hasil mau ama diriku tapi dia tidak mau keluarganya tahu, padahal aku sendiri seneng jika kelurganya tahu.

Awalnya cewek itu dia hanya tamatan MA pondok pesantren tpi dia tiba” bilang ada niat ingin kuliah. Seblm kuliah sudah dititipkan pesan jangan pernah berubah jadilah dirimu dan jangan pernah mengikuti orang lain.

Pada akhirnya pas itu kekampus universitas muhammadyah surabaya dan ketika mau ujian masuk lucunya ujiannya bisa online lewat warnet dan dia bilang tidak tahu cara mengisi soal”nya, akhirnya aku juga yang mengisi semua soal dan dia lolos untuk masuk kampus itu dengan jurusan S1 keperawatan.
Tunggu kisah selanjutnya.Penghianatan dibalik Jilbab 1

19 OKTOBER 2019

Tiada hari dalam seminggu ini yang lebih indah dibandingkan hari itu. Sebuah senyuman kembali merekah tatkala deringan pesan WhatsApp masuk dari gawai yang aku pegang. Aku terlampau sombong dalam 2 (dua) pekan ini tidak memulai mengiriminya kabar. Tak kusangka pesankulah yang Beliau nanti-nantikan.

Kami hidup dalam suatu imajinasi tentang hakikat tertinggi manusia adalah manusia yang mampu mengendalikan nafsunya. Manusia yang dengan kesederhanaan hidup cukup membuatnya bahagia. Manusia yang mementingkan hakikat penggunaan baju sebagai penutup aurat ketimbang yang mementingkan brand apa yang Dia pakai.

Obrolan kami sangat indah, yakni tentang tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Tempat yang mungkin hanya fiksi untukku saat ini. Apa yang Beliau kerjakan, apa yang Beliau inginkan, dan apa yang Beliau inginkan telah tercapai saat Beliau berada di tempat itu.

Aku ingin mengenalkannya dengan seorang yang terakhir kali membuatku tersenyum kala itu. Seseorang yang mungkin banyak kemiripan antara keduanya. Seseorang yang kukagumi sebagai salah satu muslimah idola seperti saat aku memujimu dahulu kala. Tetapi itu sepertinya tidak memungkinkan. Dia telah tiada. Mati karena imajinasi keluargaku.

Saat ini aku ingin mengulangi lagi apa yang pernah aku lakukan untukmu. Aku merasa memiliki Allah tatkala dekat denganmu.

Untukmu, Seseorang yang doanya diijabah oleh-Nya tanpa perantara. Doakan aku mendapat hidayah dari kekasihmu.

8 OKTOBER 2019

“Salah satu kesalahan terbesar yang seringkali kita perbuat adalah berasumsi apa yang dipikirkan orang lain adalah sejalan atau sama dengan apa yang kita pikirkan.” Suatu hari aku merasa terkejut tatkala Ibu dari temanku ketika perkenalan di acara kampus kami berkata bahwa “I am a Mother of Four Happy Kids” . Lalu secara spontan batinku berkata, ” Dia harus meralat kata perkenalan tadi. Dia seharusnya berkata I am a Happy Mother of Four Kids.”

Tentu pertentangan tentang sudut pandang tadi sangat pelik untuk diutarakan. Sangat wajar si Ibu berekspektasi bahwa anak-anaknya berbahagia karena Dia telah bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk membahagiakan anak-anaknya. Akan tetapi apakah benar anak-anaknya merasa bahagia? Apakah benar anak-anaknya mengetahui apa itu bahagia? Atau sesungguhnya anak-anaknya menunjukkan perasaan bahagia dengan menutupi perasaan tersiksanya, seperti yang sering dilakukan Ibunya.

Aku beropini bahwa hal tersebut tidak perlu disimpulkan. Setiap orang memiliki cara untuk membuat lelucon dalam hidupnya. Memiliki cara menikmati lelucon orang lain.

Knock-Knock
Pada akhirnya kita tahu bahwa kita tertawa tatkala teman kita tertawa meski itu biasa saja. Dan menahan tawa tatkala teman kita tidak tertawa. Tetapi menurutku itu juga membuat definisi lelucon baru naik satu tingkat.

Knock-Knock
Aku sangat mencintai diri sendiri.
Dan juga sangat membenci karenanya.
Tentu kematian harus dipersiapkan juga tatkala kita juga mempersiapkan kehidupan.

6 OKTOBER 2019

Hari itu adalah hari paling spesial untuk sang anak. Dia pada akhirnya mendapatkan balasan surat dari kekasihnya. Surat itu dibuka perlahan, dibaca kata per kata, dipahami maksudnya, dan setelahnya dia tersenyum bahagia. Sebuah sinyal positif atas penantian panjangnya harus diceritakan kepada keluarga. Ini akan menjadi hari bersejarah dan pasti orang tuanya menanti saat-saat seperti ini juga, pikirnya.

Aku terngiang obrolan dengan rekan kerja sepulang rutinitas di salah satu resto baru di kota ini. Aku merasa takjub bagaimana Beliau mendidik anak. “Saya harus mengetahui apa yang sedang dia kerjakan, apa yang sedang dia sukai, menyukai apa yang dia sukai dalam konteks positif, dan saya selalu akan ada waktu untuknya. Hidup di Kota ini berat, tidak bisa kita samakan seperti zaman kita.” Imbuhnya.

Detik, menit, dan jam berjalan. Tangisan itu akhirnya keluar. Sang anak yang biasanya riang gembira saat ini hanya termenung di ujung kamar. Dia pada akhirnya dihadapkan bagaimana harus memilih 2 (dua) pilihan berat. Dia tidak ingin memilih 2 (dua) pilihan tersebut. Dia memilih mengutuk diri.

Aku berpikir apakah perhatian dari orang tua ke anak diperlukan meski sang anak sudah baligh? Apakah perhatian tersebut malah akan membuat sang anak menjadi cengeng, kurang tanggung jawab, penakut, dll. Hingga aku paham dan mengerti kalimat indah darinya: saya selalu akan ada waktu untuknya.

26 JUNI 2019

“Saya menilai perjalanan cinta Ibu dan Bapak lebih romantis dibanding orang tua lainnya karena Ibu dan Bapak saling memuliakan satu sama lain. Hal itu sangat susah dicari di perjalanan cinta orang tua lainnya. Saya berharap sifat itu muncul juga di diri anak Ibu dan Bapak.”

Sebuah kalimat itu pada akhirnya terucap dengan begitu meyakinkan tatkala pertanyaan “Mengapa Mas hendak ingin berkenalan dengan anak Saya?” .

Harapan Ibu, anak-anak Ibu mendapat imam yang dapat membawa ketaatan pada Allah. Dibimbing selalu dalam kebaikkan, dapat mengangkat derajatnya, disayangi, dibahagiakan. Saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, saling berbagi, saling mengingatkan, dan terutama dapat menjaga orang tua saat lemah.

“Ibu, jika boleh disampaikan juga tidak ada niatan saya tertarik karena harta dari wanita. Hal tersebut salah satu dari sekian faktor yang membuat saya ragu untuk mengutarakan sejak lama. Jika diperbolehkan saya ingin memulai dengan sederhana, dengan yang belum dimiliki dari awal.” Kataku lagi menutup perbincangan.

Malam itu salah satu malam terpanjang dalam hidupku. Aku merenungi setiap perkataan yang keluar mulut Beliau. Gundah dan bahagia tercampur dalam satu balutan rasa. Aku tidak bisa tidur nyenyak malam itu.