6 OKTOBER 2019

Hari itu adalah hari paling spesial untuk sang anak. Dia pada akhirnya mendapatkan balasan surat dari kekasihnya. Surat itu dibuka perlahan, dibaca kata per kata, dipahami maksudnya, dan setelahnya dia tersenyum bahagia. Sebuah sinyal positif atas penantian panjangnya harus diceritakan kepada keluarga. Ini akan menjadi hari bersejarah dan pasti orang tuanya menanti saat-saat seperti ini juga, pikirnya.

Aku terngiang obrolan dengan rekan kerja sepulang rutinitas di salah satu resto baru di kota ini. Aku merasa takjub bagaimana Beliau mendidik anak. “Saya harus mengetahui apa yang sedang dia kerjakan, apa yang sedang dia sukai, menyukai apa yang dia sukai dalam konteks positif, dan saya selalu akan ada waktu untuknya. Hidup di Kota ini berat, tidak bisa kita samakan seperti zaman kita.” Imbuhnya.

Detik, menit, dan jam berjalan. Tangisan itu akhirnya keluar. Sang anak yang biasanya riang gembira saat ini hanya termenung di ujung kamar. Dia pada akhirnya dihadapkan bagaimana harus memilih 2 (dua) pilihan berat. Dia tidak ingin memilih 2 (dua) pilihan tersebut. Dia memilih mengutuk diri.

Aku berpikir apakah perhatian dari orang tua ke anak diperlukan meski sang anak sudah baligh? Apakah perhatian tersebut malah akan membuat sang anak menjadi cengeng, kurang tanggung jawab, penakut, dll. Hingga aku paham dan mengerti kalimat indah darinya: saya selalu akan ada waktu untuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *