8 OKTOBER 2019

“Salah satu kesalahan terbesar yang seringkali kita perbuat adalah berasumsi apa yang dipikirkan orang lain adalah sejalan atau sama dengan apa yang kita pikirkan.” Suatu hari aku merasa terkejut tatkala Ibu dari temanku ketika perkenalan di acara kampus kami berkata bahwa “I am a Mother of Four Happy Kids” . Lalu secara spontan batinku berkata, ” Dia harus meralat kata perkenalan tadi. Dia seharusnya berkata I am a Happy Mother of Four Kids.”

Tentu pertentangan tentang sudut pandang tadi sangat pelik untuk diutarakan. Sangat wajar si Ibu berekspektasi bahwa anak-anaknya berbahagia karena Dia telah bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk membahagiakan anak-anaknya. Akan tetapi apakah benar anak-anaknya merasa bahagia? Apakah benar anak-anaknya mengetahui apa itu bahagia? Atau sesungguhnya anak-anaknya menunjukkan perasaan bahagia dengan menutupi perasaan tersiksanya, seperti yang sering dilakukan Ibunya.

Aku beropini bahwa hal tersebut tidak perlu disimpulkan. Setiap orang memiliki cara untuk membuat lelucon dalam hidupnya. Memiliki cara menikmati lelucon orang lain.

Knock-Knock
Pada akhirnya kita tahu bahwa kita tertawa tatkala teman kita tertawa meski itu biasa saja. Dan menahan tawa tatkala teman kita tidak tertawa. Tetapi menurutku itu juga membuat definisi lelucon baru naik satu tingkat.

Knock-Knock
Aku sangat mencintai diri sendiri.
Dan juga sangat membenci karenanya.
Tentu kematian harus dipersiapkan juga tatkala kita juga mempersiapkan kehidupan.