19 OKTOBER 2019

Tiada hari dalam seminggu ini yang lebih indah dibandingkan hari itu. Sebuah senyuman kembali merekah tatkala deringan pesan WhatsApp masuk dari gawai yang aku pegang. Aku terlampau sombong dalam 2 (dua) pekan ini tidak memulai mengiriminya kabar. Tak kusangka pesankulah yang Beliau nanti-nantikan.

Kami hidup dalam suatu imajinasi tentang hakikat tertinggi manusia adalah manusia yang mampu mengendalikan nafsunya. Manusia yang dengan kesederhanaan hidup cukup membuatnya bahagia. Manusia yang mementingkan hakikat penggunaan baju sebagai penutup aurat ketimbang yang mementingkan brand apa yang Dia pakai.

Obrolan kami sangat indah, yakni tentang tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Tempat yang mungkin hanya fiksi untukku saat ini. Apa yang Beliau kerjakan, apa yang Beliau inginkan, dan apa yang Beliau inginkan telah tercapai saat Beliau berada di tempat itu.

Aku ingin mengenalkannya dengan seorang yang terakhir kali membuatku tersenyum kala itu. Seseorang yang mungkin banyak kemiripan antara keduanya. Seseorang yang kukagumi sebagai salah satu muslimah idola seperti saat aku memujimu dahulu kala. Tetapi itu sepertinya tidak memungkinkan. Dia telah tiada. Mati karena imajinasi keluargaku.

Saat ini aku ingin mengulangi lagi apa yang pernah aku lakukan untukmu. Aku merasa memiliki Allah tatkala dekat denganmu.

Untukmu, Seseorang yang doanya diijabah oleh-Nya tanpa perantara. Doakan aku mendapat hidayah dari kekasihmu.