23 OKTOBER 2019

Hari ini termasuk hari yang begitu spesial untukku. Ingatan kembali atas sebuah sosok yang dulu pernah kuperjuangkan tiba-tiba terngiang di kepalaku. Aku sudah melupakannya sejak lama. Sejak dinginnya sikap atas sebuah dobrakan yang sedang kulakukan saat itu terhadapnya. Memang kala itu aku terlampau vulgar saat menyapa dirinya, tetapi hal itu harus kulakukan untuknya. Iya, aku melakukannya dengan sadar saat Dia sudah memiliki “orang baik” di sisinya.

Dalam rutinitas sebelum fajar tiba-tiba jari-jemariku menuliskan sebuah nama di penelusuran salah satu aplikasi di gawai yang kupegang. Hingga tiba di sebuah nama yang kuyakini dialah “orang baik” menurutnya saat ini. Oh beruntungnya dia mendapatkan orang baik tersebut. Andaikan waktu dapat diputar kembali dari kisah romantisme yang telah dia lalui, seharusnya dia tidak pernah membatasi lingkup pertemanan atau seharusnya dia memperluas jejaring pertemanan. Iya, dia punya keahlian berkawan dengan banyak orang.

Ada usaha yang telah orang baik itu lakukan untuk membuat satu frekuensi dengan keluarganya. Tetapi entahlah mengapa banyak tanya tentang mengapa dia begitu tidak percaya diri untuk mengenalkan ke orang tuanya atau ada hal yang belum layak aku ketahui saat ini?

Suatu obrolan dengan kawan dari Madura semalam sebelumnya, sangat wajar dan mengerikan tatkala mengetahui orang kita cintai saat ini memiliki masa lalu dengan orang-orang baik di sisinya. Sangat wajar dalam arti kami saat ini pun melakukannya dengan mencari bunga mawar mana yang indah warnanya, harum aromanya, tidak berduri, dan tidak berpemilik. Akan tetapi kami beropini bahwa hal itu mengerikan dalam arti jikalau kelak ada masalah di antara kita, emosi memuncak, lalu terucaplah kalimat pembanding antara kami dengan orang baiknya tempo lampau, bagaimana sedihnya diri ini. Atau karena dia telah tahu trik untuk mendapatkan orang-orang baik itu, tatkala kita jenuh mungkin kita akan menciptakan orang-orang baik lainnya. Entahlah hal itu sangat mungkin terjadi sebagai pengingat diri ataupun harus selalu belajar mencari alasan baru tiap harinya ketika telah memutuskan untuk benar-benar mencintainya. Hingga kelak kita tak perlu membutuhkan lagi orang baik lainnya selain dirinya.

Kita saat ini berjalan dalam jalur berbeda. Meski dalam satu nasib yang sama, yakni bingung bagaimana cara meyakinkan orang tua atas pilihan yang kita buat.

Tetapi satu hal yang membuat aku tersenyum karenanya di pagi ini, aku membuka lagi blog ayahku. Aku suka sekali dengan tulisannya yang bercerita tentang ayahnya. Aku sudah lupa bahwa kado dan oleh-oleh terbaik untuk ayahku adalah tulisan. Aku selalu membuatkan buku untuknya tiap tahun tatkala aku kuliah dulu. Hal yang sudah aku lupakan di 3 (tiga) tahun terakhir. Aku rindu Ayah. Aku ingin pulang.