SERIBU KATA UNTUK AFI (Bag. 1)

Aku tidak tahu sebaiknya harus memulai dari mana pembicaraan ini, kecuali memulainya dengan kalimat Bismillahirrohmanirrohim. Hanya Dialah yang saat ini setia menjadi tempatku berkeluh kesah akhir-akhir ini. Tanpa Rohman-Nya mungkin tulisan ini tidak akan pernah ditulis dan tidak akan pernah berani aku berikan ke kamu. Dengan sifat Rohim-Nya lah tiada hal menjadi penyemangatku untuk berlomba mencari ridlonya. Semoga kelak menjadi penyelamat kita semua di akhirat sebagai wasilah ikhtiar mengenal satu sama lain dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya cara.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga terlihat berwarna-warni dimana-mana. Bau harum menyerbak ke seluruh penjuru kota ini. Muda-mudi tampak betah duduk berlama-lama di Taman saling memadu kasih. Seorang anak kecil tertawa bahagia bercengkrama dengan kawan sebayanya. Sepasang kakek nenek tersenyum bagaimana mengenang masa-masa itu. Sedangkan aku hanya berani mengintip mereka dari kejauhan, merenung bagaimana waktu dapat mengatur perasaan manusia dari waktu ke waktunya.

Ada saat dimana waktu itu terasa menyenangkan, tetapi akan datang saat dimana kita akan jalan sendiri. Aku terkadang mengutuk waktu. Dia pinjamkan kita detik, menit, jam, hingga hari. Lalu dia pun ambil kapanpun dia mau. Akan tetapi dengan adanya dia akhirnya aku belajar bagaimana mencintainya dan menghormatinya. Ada seseorang yang tidak boleh disia-siakan waktunya hanya untuk menunggu ketidakpastian.

Di antara anugerah ilahiyah bagi hamba-Nya adalah ujian bagi memetik kepahaman. Bahwa setiap orang itu diuji yang spesifik bagi keluarganya yang tak ditemukan dalam keluarga lain. Bagi yang berhasil memetiknya, itu kehebatan Allah yang hanya orang ariflah yang mampu memetiknya. Aku akan tetap belajar meyakini setiap waktu bahwa Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dalam heningnya malam di taman itu aku memikirkan seandainya aku adalah bunga-bunga itu. Apakah hatiku senang karena dapat membuat setiap orang bahagia melihat diriku ataukah aku akan sedih karena aku mengetahui selalu ada batas waktu untukku membuat orang-orang itu bahagia.