SERIBU KATA UNTUK AFI (Bag. 2)

Entah mengapa di suatu akhir pekan sang anak yang terkenal riang gembira lebih memilih untuk memilih mengutuk diri dalam kesedihan. Susah terbayang hari demi hari mulai ditinggal rekan. Ketika malam dikepung sepi, hari pun mulai mengikutinya. Memang sebagai lelaki tak pantas terlalu dalam mengikuti pepatah: Satu tangan yang meraihmu ketika kamu terjatuh, akan lebih berharga dari seribu tangan yang menyalamimu ketika kamu berhasil. Ilusi kebahagiaan mulai dibuat. Senyum ramah mulai dipaksa dan ternyata itu menambah duka yang semakin dalam.

Kepada seorang Ibu yang terkenal dengan sosok bijaksananya di kota ini aku mulai bercerita, menjawab sebuah pertanyaannya. “Ibu, saya tidak mau menjadi seorang juara di setiap kompetisi yang Bapak ciptakan” Jawabku. “Apakah ada hal yang lebih indah dibanding berkompetisi?” timpalku. Beliau pun menjawab “Ada, yang pertama mas harus lakukan adalah mas harus siap untuk menikmatinya. Menikmati setiap proses yang akan dilalui dan menikmati hasil akhir yang akan diraih. Apakah mas sudah siap?”

Napas mulai kuhirup dalam-dalam. Nada suara mulai aku atur berat sebagai penanda aku ingin berkata dengan sangat serius. “Ibu, saya tidak memiliki keinginan lebih dalam sebuah perjalanan kehidupan dunia. Sejak kecil saya sudah merasa sedikit ambisi untuk meraih nomor satu dalam setiap perlombaan. Dulu saya tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Saya hanya ingin menjadi seorang santri di sebuah pondok di Jawa Timur. Bangun pagi membaca kitab, setelah shubuh bekerja di sawah, setelah dluhur membersihkan surau, setelah ashar mulai menghafal lagi nadhom-nadhom, setelah maghrib membaca al-Qur’an dan setelah isya’ menyetor hafalan nadhom-nadhom itu ke ustadz.” yakinku kepadanya.

Sejak kecil aku sering merasa sepi. Aku merasa ada jarak antara aku dengan kawan-kawanku lainnya. Kala itu ketika aku menjadi siswa peringkat nomor satu di kelas, aku merasa mereka segan bercengkrama denganku. Iya, guru-guru di kelasku terlampau mengidolakanku sehingga terlampau protektif ketika aku bermain dengan rekan-rekan lainnya. Aku dilarang capai tatkala jam istirahat karena persiapan beberapa lomba yang harus aku ikuti. Aku bersyukur selalu kalah di setiap perlobaan itu. Aku tidak ingin ada jarak dengan orang lain. Aku ingin duduk di bawah dengan mereka, kawan-kawan yang kucintai saat itu.

Rayuan kata mulai berdegung nyaring tatkala raga tak ingin menari. Syair indah mulai memberanikan diri bercengkrama denganku. Kuberanikan langkah kaki berlari menerjang, nyali menunduk takut, hati berdetak kencang, suara lirih berkata: tolong kuatkan jiwa ini karena ada doa orang lain yang tak mungkin kusiakan. Aku beranikan menyatakan secara jujur ke Beliau, “Ibu, apa yang saya capai hingga saat ini, apa yang saya jalani sekarang, apa yang akan saya kerjakan nantinya adalah doa dari orang tua di Semarang. Saya bukan siapa-siapa tanpa mereka. Saya akan melakukan segala hal yang menurut mereka baik. Saya sudah bersiap dengan pilihan meninggalkan orang yang saya kasihi saat ini untuk mereka.”

Iya, aku akan meninggalkanmu, Afi .