31 AGUSTUS 2019

(Sebuah renungan untuk seorang Ibu yang istiqomah menjaga anaknya hingga akhir hayatnya)

Apa yang terlintas di pikiran tatkala ombak besar menghempas di depan mata, lalu bayangan kematian seolah mengintai, mereka pun berkata, “Ya Allah”.

Tatkala bumi bergoncang hebat, rumah-rumah hancur, aliran listrik putus, malam dan gelap gulita menyelimuti, mereka pun akan berseru, “Ya Allah”.

Dialah Allah yang selalu diingat, diharapkan, disandarkan ketika tidak ada lagi tempat untuk berharap dan bersandar.

Hidup selalu diintai bahaya, penyakit mengancam kesehatan, putra jauh darimu (dari inginmu), harta yang dikumpulkan menipis, maka ketahuilah salah satu nama Allah adalah al-Hafizh, Dialah zat yang maha menjaga.

Tiada kegelisahan, kesusahan, dan kesedihan yang menyamai kegelisahan, kesusahan, kesedihan Dzun Nuun Nabi Yunus A.S. Di dalam tiga kegelapan: gelapnya laut, gelapnya malam, dan gelapnya ikan paus. Sungguh itu adalah hidup yang penuh kesengsaraan jika ia benar-benat akan berada di perut ikan tersebut selamanya.

Dalam gelap, sempit, dan mencekik, ia berkata: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin”. Tiada tuhan selain Engkau , sesungguhnya aku termasuk orang-orang Zalim.

Kalimat lemah itu menanjak naik, menembus gelapnya perut ikan paus, menembus gelapnya laut, gelapnya malam, hingga mencapai langit. Pertolongan, penjagaan, dan ampunan datang. Ikan paus tersebut membawa dan mengeluarkannya di tepi pantai.

Seorang Ibu yang akan melepaskan anaknya untuk menuntut ilmu sepatutnya yakin bahwa ia telah benar-benar menitipkan anaknya kepada Allah, Zat yang maha menjaga. Dialah yang akan menjaganya agar tidak terjerumus dosa, mengasihi dalam gerak dan diam, menjaga pendengaran dan penglihatan, hingga menjaga dari perdaya syubhat dan hawa nafsu.

Seorang suami sepatutnya merevisi keimanan di tiap kali munculnya sombong tatkala memberi nafkah kepada istrinya. Sungguh nafkah yang dia berikan tidak akan pernah cukup sebelum Allah memberi kecukupan atas istrinya. Karena Allah yang menjaganya dari kesehatan, dari keinginan menggebu-gebu, dari setiap pandang dan dengar nafsu duniawiyah yang berlebih.

Ya Allah jagalah kami dengan penjagaan-Mu yang dapat menyelamatkan kami dari apa yang kami takutkan dan khawatirkan.

11 OKTOBER 2019

Hari ini mungkin akan menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Aku memberanikan diri mengenalkan ke dunia sebuah coretan tentang sisi lain dariku yang kelak mungkin akan menjadi kenangan indah maupun kenangan yang biasa saja. Banyak hal selama ini yang tidak tersampaikan dengan ucapan. Sehingga perlu adanya memberanikan diri untuk memulai menulis karena di dalam tulisan terkandung Rasa dan Hati.

Aku mulai mencoba mengingat tentang apa-apa yang terjadi pada hari itu. Tentang siapa, dimana, dan apa. Aku akan berusaha menuliskan pikiran lawan bicaraku melalui sudut pandangku. Benar adanya tulisan dalam web ini bersifat Subjektif dan tidak ada yang Objektif. Jangan berharap banyak menemukan jawaban.

3 (tiga) tahun terakhir merupakan mimpi buruk untukku. Aku memasuki fase dimana keseharian yang dahulu sebagai pembaca dan penulis terampas begitu saja. Bukan terampas, aku memilih melacur pilihan lainnya. Aku tidak akan menyesali pilihan itu dan benar-benar sangat menikmatinya sehingga akan kucoba tulis di setiap ingatan yang tersisa.

Semoga aku masih bisa menulis. Aku tidak ingin tidur selepas Ba’dha Shubuh. Aku ingin menulis.

Sekian,